Subscribe to RSS Feed

Selasa, 22 Februari 2011

Kim-Kris Sedang Dimabuk Asmara


KOMPAS.com — Kim Kardashian dan kekasihnya yang merupakan pebasket NBA, Kris Humphries, tampaknya sedang dimabuk asmara. Pasangan yang baru kencan dalam beberapa bulan ini selalu mengumbar kemesraan, meskipun berada di depan umum.
Laksana perangko dan kertas, Kim dan Humphries nyaris tak pernah berpisah. Mereka terlihat selalu lengket, baik hanya sekadar bergandengan, maupun dengan pelukan. Ini terjadi saat keduanya menghadiri sebuah pesta di Club Nokia di Los Angeles pada Minggu (20/2/2011) malam.
Mengenakan baju ketat mini berbahan cetak kulit hewan dan dipercantik anting-anting emas yang besar, Kim tertawa dan bercanda dengan kekasihnya yang berusia 26 tahun tersebut dalam pesta yang diselenggarakan oleh saudara iparnya, Lamar Odom. Pasangan itu sangat menikmati kebersamaan mereka.
E! Online melaporkan, pasangan ini tiba di acara tersebut sekitar pukul 23.00. Mereka datang bersama saudara muda Kim, Rob, serta tuan rumah pesta, Khloe dan suaminya, Lamar, yang sedang difilmkan untuk reality show baru mereka.
Kemesraan yang diperlihatkan ini mungkin sebagai "balas dendam" Kim dan Humphries, yang tidak bisa menikmati Valentine Day pada 14 Februari lalu. Pasalnya, sosialita berusia 30 tahun dan bintang basket tim New Jersey Nets tersebut larut dalam pekerjaan masing-masing, sesuai komitmennya.
"Saya pikir, jika ada sesuatu, saya memahami bekerja lebih dari siapa pun. Jadi, itu hal yang paling penting," ujar Kim baru-baru ini kepada Us Weekly.
"Liburan tentu saja menyenangkan, tetapi selama Anda menyisihkan waktu itu, apakah hari itu aktual atau tidak, saya pikir itulah hal yang bisa membuat hubungan berlangsung baik."
Kim juga pernah mengungkapkan bagaimana hubungannya dengan Humphries tetap berjalan baik-baik saja, meskipun jarak memisahkan mereka.
"Begitu banyak hal. Dia benar-benar memiliki hati yang baik," ujarnya kepada Us. "Harus ada kepercayaan dan kejujuran serta perasaan yang kuat. Jika Anda tidak memiliki salah satu dari hal tersebut, maka itu (hubungan) tidak akan pernah berhasil."
Sebelumnya, bintang Kourtney & Kim Take New York ini pernah menjalin hubungan dengan dua bintang NFL, Reggie Bush dan Miles Austin. Sayang, hubungannya dengan Austin harus berakhir pada bulan September lalu.

"Dosa-dosa Nurdin Halid" Dijual Asongan



YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Buku "Dosa-Dosa Nurdin Halid" yang diluncurkan salah satu penerbit buku di Yogyakarta, Galang Press, dijual secara asongan di kawasan Tugu Yogyakarta karena toko buku besar tidak mau menjualnya.    
"Ada salah satu toko buku besar yang enggan menjualnya dengan alasan yang tidak kami tahu, sehingga kami memutuskan untuk menjual buku ini secara asongan dan di beberapa toko buku kecil," kata Direktur Galang Press Julius Felicianus di sela-sela penjualan buku tersebut di Yogyakarta, Selasa.    
Menurut dia, buku tersebut merupakan buku yang cukup penting untuk memberikan referensi mengenai sepak terjang Nurdin Halid selama memimpin organisasi sepak bola tertinggi di Indonesia, yakni Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).    "Di dalam buku ini, masyarakat akan mengetahui informasi mengenai kasus-kasus yang melibatkan Nurdin Halid, dan mengapa Nurdin Halid menjadi penyebab gagalnya sepak bola di Indonesia," katanya.
Berjualan secara asongan tersebut tidak hanya dilakukan di Yogyakarta, tetapi juga di sejumlah kota lain seperti Jakarta, Semarang, Malang, dan Surabaya.  "Saat ini, kami sudah masuk ke cetakan kedua dengan total buku mencapai 7.500 eksemplar," katanya.
Di Yogyakarta, jumlah buku yang dijual secara asongan tersebut berjumlah 50 eksemplar dengan harga jual Rp 50.000 per buku, sementara harga jual di toko buku adalah Rp 60.000 belum termasuk diskon.
Ia berharap, melalui buku tersebut, sepak bola sebagai alat pemersatu bangsa bisa terus berkembang dengan baik dan menghasilkan prestasi yang membanggakan bangsa Indonesia. "Kami akan menjual buku ini secara asongan hingga Kongres PSSI digelar mendatang," katanya.
Sejumlah karyawan di penerbitan buku tersebut terlibat dalam penjualan buku secara asongan serta tampak adanya keterlibatan dari seniman badut Yogyakarta, Tedjo Badut.

Senin, 21 Februari 2011

ini cinta

jangan buatku membencimu
karena semakin aku membencimu
semakin aku cinta kamu

tapi.....

jangan buatku menyukaimu
karena semakin ku menyukaimu
semakin aku menangis
karna tak dapat memilikimu

tapi inilah cintaku











makam gusdur legok

Kecintaan pada sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur rupanya begitu mendalam, baik di benak para kolega maupun simpatisan. Aisyah Badlowi, adik perempuan Gus Dur, bercerita bahwa ia beberapa kali menemukan tanah makam Gus Dur di Jombang, Jawa Timur, agak legok karena tanahnya diambil para peziarah.

"Tanah makamnya pun sampai agak legok. Para peziarah itu banyak yang mengambil segenggam tanah makam Gus Dur. Coba bayangkan, kan ribuan yang datang," kata Aisyah Badlowi dalam acara peluncuran buku Sejuta Doa Gus Dur di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (8/2/2010).

Ia mengatakan, meski beberapa kali sudah kembali diuruk, beberapa kali pula tanah makam legok kembali. Meski demikian, Aisyah mengaku memaklumi tindakan para peziarah itu sebagai sebuah bentuk kecintaan pada sosok dan ajaran-ajaran Gus Dur.

"Keyakinan mereka seperti itu. Kami juga tidak bisa menyalahkan. Itu wujud kecintaan," ujarnya.

Meski sudah tiada, Aisyah secara pribadi mengaku bersyukur bahwa ada sosok Gus Dur yang banyak memberikan sumbangsih bagi masyarakat. "Terima kasih kepada Allah telah memberikan sosok seorang Gus Dur. Mudah-mudahan apa yang diberikan Gus Dur menjadi amal baik beliau," ucapnya.

Film Hollywood Aturan Perfilman Harus Lebih Sehat

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah akan mencari jalan keluar sebagai respons keberatan importir film atas ketentuan perpajakan yang mengakibatkan asosiasi produsen film Amerika Serikat menyatakan tak akan lagi mengedarkan film Hollywood ke Indonesia. Pemerintah juga perlu meninjau ulang perpajakan film untuk menjadikan industri ini lebih sehat dan kompetitif.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro dan Deputi Bidang Koordinasi Perdagangan dan Industri Kementerian Perekonomian Edy Putra Irawady menyampaikan hal itu secara terpisah di Jakarta, Sabtu (19/2/2011).
Sebelumnya, Wakil Presiden Motion Pictures Associatian (MPA) untuk Asia Pasifik, Frank S Rittman, Kamis lalu, menyatakan bahwa asosiasi produsen film besar dari AS ini memutuskan untuk tidak mendistribusikan film di Indonesia selama pemerintah tetap memberlakukan ketentuan perpajakan yang baru terkait pengenaan royalti film impor.
Pada 10 Januari 2011, pemerintah menerbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-3/PJ/2011 tentang Pajak Penghasilan (PPh) atas Penghasilan Berupa Royalti dan Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas Pemasukan Film Impor. Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyebutkan hal ini sebagai bagian dari reformasi perpajakan dalam industri perfilman di Indonesia.
Surat edaran ini menyebutkan, penghasilan yang dibayarkan ke luar negeri oleh importir terkait penggunaan hak cipta atas film impor dengan persyaratan tertentu merupakan royalti yang dikenai PPh 20 persen. Pengenaan pajak royalti untuk film impor merupakan hal baru, sedangkan royalti film nasional sudah lebih dulu dikenai pajak.
Pajak royalti untuk film nasional ini diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-33/PJ/2009 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan atas Penghasilan Berupa Royalti dari Hasil Karya Sinematografi.
Selain mengatur ketentuan pajak royalti film impor, Surat Edaran Dirjen Pajak yang diterbitkan Januari lalu juga mengubah perhitungan PPN yang selama ini dikenakan pada film impor.
Sebelumnya, film impor dikenai bea masuk, PPN, dan PPh hanya berdasarkan panjang film, tanpa memperhitungkan jenis dan harga film.
”Kami kenakan sekitar 0,43 dollar AS per meter sebagai dasar pengenaan untuk bea masuk dan juga pengenaan PPN dan PPh,” ujar Direktur Peraturan Perpajakan I Ditjen Pajak Suryo Utomo saat mengumumkan penerbitan Surat Edaran Dirjen Pajak ini, Januari lalu.
Tidak kompetitif
Terbebasnya film impor dari pajak royalti selama ini serta rendahnya pengenaan tarif bea masuk, PPN, dan PPh untuk film impor dinilai turut mengakibatkan industri film nasional tidak kompetitif bersaing dengan film impor di negeri sendiri.
”Sebagai sebuah karya atau barang jadi, film yang masuk ke Indonesia memiliki dua aspek perpajakan, yaitu sebagai barang impor dan adanya pembayaran royalti atau pemanfaatan hak atas film tersebut oleh pihak yang diizinkan untuk mengedarkan,” ujar Suryo Utomo.
Pengenaan tarif dengan dasar perhitungan nilai yang tetap, yakni 0,43 dollar AS per meter film, dirasa merugikan karena harga sebuah film yang diimpor bisa jauh lebih mahal dari itu. Oleh karena itu, pengaturan kembali dinilai penting.
Secara terpisah, Edy Putra Irawady menegaskan, kenaikan tarif perpajakan atas film impor sebagai barang jadi sebenarnya merupakan hal wajar. Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO mengizinkan negara anggotanya, termasuk Indonesia, untuk melindungi industri dalam negerinya dengan menerapkan bea masuk pada barang jadi yang masuk ke pasar domestiknya.
”Saya pikir itu wajar kalau ada tarif bea masuk untuk barang jadi (film impor). Sebab, sudah menjadi hak kita di WTO untuk menerapkan tarif bea masuk, bahkan hingga 40 persen,” katanya.
Meski demikian, Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menegaskan, pemerintah masih akan membahas ketentuan perpajakan ini dengan pihak importir film. Dengan begitu, Pemerintah Indonesia, masyarakat penonton film di Indonesia, ataupun para importir film sama-sama tidak menjadi pihak yang dirugikan. ”Pemerintah dan importir sedang mencari win-win solution atas ketentuan itu,” ujarnya.
Bioskop terancam
Terkait keputusan MPA, bioskop di seluruh Indonesia sejak 17 Februari lalu tidak bisa lagi memutar film-film Hollywood milik sejumlah produsen besar anggota MPA. Hal ini meresahkan pengusaha bioskop dan penonton film di Indonesia.
Pendiri dan konseptor Blitzmegaplex, Ananda Siregar, mengatakan, jumlah film Hollywood yang diputar Blitz selama ini sekitar 80 hingga 90 judul per tahun atau sekitar dua pertiga dari semua judul film yang diputar Blitz. Selebihnya, jaringan bioskop ini memutar film nasional dan film asing non-Hollywood. ”Jadi, dampaknya sangat negatif. Kalau berkelanjutan itu menyusahkan,” ujar Ananda.
Dijelaskan Ananda, distributor film asing non-Hollywood sebenarnya bisa mengisi kekosongan film Hollywood di bioskop-bioskop Indonesia. Namun, ia khawatir distributor film asing lainnya juga akan berkeberatan karena ketentuan bea masuk ini berlaku bagi semua film impor.
Film nasional juga bisa didorong untuk mengisi layar Blitz. Namun, langkah itu tidak bisa dalam jangka pendek. ”Produksi film lokal memang bisa digenjot, tetapi prosesnya kan makan waktu. Kalau pasokan saat ini belum mencukupi,” ujarnya.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia Djohny Sjafruddin berpendapat, kebijakan pemerintah ini justru bisa mengancam industri perfilman nasional. ”Secara umum, industri ini terdiri dari sektor hulu dan hilir. Yang akan hancur adalah hilirnya, yakni bioskop, karena sebagian besar bioskop memutar film asing, terutama dari AS,” ujarnya.
Berdasarkan data Lembaga Sensor Film, pada tahun 2010 terdapat 180 film impor dan 81 film nasional yang diputar di bioskop-bioskop Tanah Air. ”Film nasional belum secara permanen bisa menunjang bioskop. Jadi, kalau pasokan film Barat tidak ada, industri bioskop akan hancur duluan,” ujar Djohny.
Kekurangan pasokan ini tercermin di situs web 21cineplex misalnya. Agenda film yang akan tayang hingga Sabtu kemarin hanya diisi dengan empat film nasional: Tebus, Pocong Ngesot, Rumah Tanpa Jendela, dan Cewek Saweran. (DAY/OIN/BSW)

Kate Moss Jualan Tas

Jumat, 29 Januari 2010 | 15:06 WIB

AFP PHOTO/MIGUEL MEDINA
PARIS, KOMPAS.com — Supermodel Kate Moss (36) meluaskan wilayahnya dalam bisnis fashion. Ia baru saja meluncurkan koleksi tas rancangannya untuk label produk fashion dari kulit Longchamp dari Perancis.

Selama beberapa musim sebelumnya, Moss sudah menjadi model untuk label tersebut dan kerap diabadikan dengan tas-tas dari label itu. Kini, ia menjadi perancang untuk tas-tas tersebut. Namanya pun diabadikan pada label itu—The Kate Moss for Longchamp. Pada 27 Januari lalu, koleksi tersebut diluncurkan di Ritz, Paris (Perancis), dengan pesta yang mengundang 700 orang. Tunangan Moss, Jamie Hince, hadir dalam acara itu.

Koleksi Moss tersebut mencakup 12 desain yang berbeda. Setiap desainnya diberi nama tempat favoritnya di London (Inggris), seperti  Soho, Ladbroke, Goldbourne, Gloucester, dan Glastonbury. (telegraph.co.uk/ATI)

KPK TAK PANGGIL MEGA

JAKARTA, KOMPAS.com- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan tidak lagi memanggil Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk menjadi saksi meringankan khusus untuk kasus traveller cheques DGS BI, Miranda Swaray Goeltom. Pemanggilan tidak sesuai Pasal 1 butir 27 KUHAP dimana saksi meringankan harus melihat, mendengarkan dan mengalami di tempat kejadian.
Pemanggilan KPK atas Megawati ini mendapat klarifikasi dari pihak DPP PDIP yang merasa pemanggilan tersebut melanggar aturan. "KPK tidak lagi akan memanggil Megawati khusus untuk kasus ini," ungkap juru bicara KPK, Johan Budi, saat jumpa pers di kantor KPK, Senin, (21/02/2011).
Menurut Johan, sebenarnya KPK sendiri tidak memiliki kepentingan dengan kehadiran Mega sebagai saksi meringankan. KPK hanya menjalankan aturan dalam Pasal 116 ayat (3) KUHAP yaitu memberikan kesempatan kepada tersangka untuk menghadirkan saksi meringankan (Ade Charge).
"Pemanggilan Mega hanya merupakan permintaan tersangka. Kami hanya menjalankan sesuai dengan aturan dan proses hukum," kata Johan.