Subscribe to RSS Feed

Senin, 28 Februari 2011

RESENSI FILM: WHEN WE LEAVE - KANDIDAT NOMINASI OSCAR UNTUK KATEGORI FILM BERBAHASA ASING TERBAIK

(INDEPENDENT ARTISTS FILMPRODUKTION)
(INDEPENDENT ARTISTS FILMPRODUKTION)
(Epochtimes.co.id)
Seperti banyak imigran Turki lainnya, Umay datang ke Jerman untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi dirinya dan putranya Cem. Dalam kasus mereka, itu berarti melarikan diri dari suaminya yang kejam, Kemal. Sayangnya, ia menemukan bawaan tradisional dari negara asalnya sulit untuk digoyahkan dalam When We Leave karya FeO Aladag, film Jerman yang layak mendapatkan Oscar untuk kategori bahasa asing terbaik.
Karena susunan bingkai film, kita mulai dengan asumsi keberhasilan tidak akan berpihak pada Umay. Sebenarnya, kita tidak tahu. Sebagai perempuan sangat cantik, suami Umay menggunakan dirinya sebagai budak domestik. Namun, ketika dia juga mulai meneror putra mereka, Umay memutuskan untuk melarikan diri.
Pada awalnya, keluarganya di Jerman sangat senang melihatnya, tetapi mereka terus bertanya tentang Kemal. Ketika ayahnya, Kader, dan kakaknya yang lebih tua, Mehmet, mengetahui kebenaran, mereka [kecewa].
Meskipun sanggahan Umay, Kader tetap menganggap bahwa Umay harus kembali ke pemilik sahnya atau menganggap dirinya diusir dari keluarga. Sementara Umay harus melindungi diri dan anaknya, dia tidak bisa kembali pada keluarga yang pernah dicintainya dulu. Sayangnya, peringatan dari temannya secara tragis terbukti benar — keluarganya selalu akan memilih komunitas mereka daripada seorang anak perempuan belaka.
Leave adalah sebuah film yang benar-benar intens yang secara jelas menggambarkan segala macam kejahatan yang dilakukan atas nama kehormatan. Kita menyaksikan pelecehan pasangan, upaya penculikan, mengintai, dan lebih buruk. Namun, bagi Umay, isolasi emosional bagi keluarganya adalah yang paling sulit untuk ditanggung.
Sibel Kekilli yang sangat cantik sepatutnya memenangkan penghargaan aktris terbaik pada Tribeca Film Festival tahun lalu untuk perannya sebagai Umay yang mengiris hati. Sebagai seorang pendukung aktif Terre de Femmes, organisasi Jerman berbasis nirlaba yang didedikasikan untuk perempuan Muslim yang mengalami kekerasan fisik, Kekilli jelas menggambarkan kehidupan nyata dalam aktingnya yang memukau. Sulit untuk menonton saat perannya sebagai Umay diludahi (secara harfiah dan kiasan) oleh keluarganya yang dahulu mencintainya.
Keakraban pendekatan Aladag secara mendalam menangkap kedalaman nuansa tak terkatakan yang terjalin di antara karakter-karakter. Dia juga memunculkan beberapa karya yang cukup tercapai dari para pemain pendukung. Sebagai Stipe (kekasih Umay berwarga Jerman), Florian Lukas menambahkan sedikit kedalaman pada bagian yang dapat dengan mudah dicap sebagai orang baik.
Namun barangkali giliran paling mengejutkan datang dari Settar Tanriƶgen sebagai ayah Umay yang sakit, membangkitkan rasa kesedihan yang tinggi melalui sikap pengecut dan kepatuhan Kader.
Terus terang, bisa dikatakan ini agak menjadi skandal bahwa Leave bahkan tidak berada dalam daftar sembilan film Oscar untuk kategori bahasa asing terbaik. Ini adalah film yang kuat, menampilkan kinerja Kekilli yang sungguh berani.  (Joe Bendel / The Epoch Times / yan)

0 komentar:

Posting Komentar